Malam itu, langit Ile Boleng tidak hanya dipenuhi lantunan takbir yang menggema dari pengeras suara. Jalan-jalan desa yang biasanya lengang berubah menjadi lautan cahaya lampu kendaraan yang bergerak perlahan menembus gelap. Di atas sepeda motor, anak-anak, remaja, orang tua, bahkan tokoh agama dari keyakinan yang berbeda, berbaur dalam satu irama: merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Peristiwa itu terjadi pada Rabu malam, 6 Juli 2016, bertepatan dengan malam Idulfitri 1437 Hijriah.
Di banyak tempat, gema takbir identik dengan perayaan umat Islam. Namun di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, malam takbiran menghadirkan kisah yang lebih dari sekadar tradisi keagamaan. Ia menjelma menjadi potret indah tentang persaudaraan yang tumbuh alami di tengah keberagaman. Mengisi bulan suci Ramadan, umat Muslim di Ile Boleng menggelar berbagai kegiatan khas Ramadan. Salah satunya adalah pawai gema takbir yang telah menjadi agenda tahunan masyarakat. Namun, ada sesuatu yang membuat pawai malam itu terasa istimewa.
Peserta yang ikut bukan hanya umat Muslim. Di antara rombongan konvoi, tampak pula para muda-mudi Katolik yang tergabung dalam kelompok Mudika. Mereka ikut menghidupkan suasana malam kemenangan itu. Tidak ada sekat, tidak ada rasa canggung. Mereka hadir sebagai sahabat dan saudara yang ikut bersukacita atas kebahagiaan tetangganya. Bahkan, sosok pastor yang bertugas di Paroki Pukaona turut ambil bagian.
Dengan menunggangi kendaraan roda dua, pastor tampak berada di barisan depan bersama peserta konvoi lainnya. Kehadirannya menjadi simbol sederhana namun kuat bahwa toleransi tidak selalu lahir dari pidato-pidato besar. Terkadang, toleransi hadir melalui tindakan kecil: ikut berjalan bersama, ikut menjaga kebahagiaan sesama, dan menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh.
Malam itu, desa-desa di Ile Boleng yang biasanya tenang mendadak riuh oleh gema takbir dan suara klakson kendaraan. Rute pawai yang ditempuh pun tidak singkat. Belasan kilometer dilalui oleh para peserta. Dari Nobo, rombongan bergerak menuju Gayak di bagian timur. Perjalanan kemudian berlanjut ke Lamalaka sebelum berbalik ke arah barat melintasi Boleng, Lewopao, dan Lewo Keda. Setelah itu, peserta kembali menuju titik awal.
Konvoi panjang itu seperti benang yang merajut desa-desa di Ile Boleng dalam suasana kebersamaan. Warga yang berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan. Anak-anak menyaksikan dengan mata berbinar. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi masyarakat Ile Boleng, hidup berdampingan dalam perbedaan bukanlah sesuatu yang asing. Mereka telah lama tumbuh dalam budaya saling menghargai. Saat satu kelompok merayakan sukacita, kelompok lainnya ikut menjaga dan mendukung. Saat ada duka, semua datang menghibur tanpa mempersoalkan latar belakang agama.
Abubakar Boli, salah seorang umat Muslim Ile Boleng, mengungkapkan rasa bangganya terhadap suasana malam takbiran tersebut. Ini suatu bentuk nyata toleransi antarumat beragama yang jarang kita jumpai, ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan sesaat. Di tengah berbagai cerita tentang gesekan dan perpecahan yang kerap menghiasi ruang publik, Ile Boleng justru menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Toleransi di tempat ini tidak dibangun melalui slogan-slogan besar yang dipasang di baliho. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari: saling mengunjungi, bekerja bersama, menghadiri acara keagamaan sesama warga, dan menempatkan kemanusiaan di atas perbedaan.
Malam takbiran tahun 2016 mungkin telah berlalu. Suara takbir itu telah lama menghilang ditelan waktu. Lampu-lampu kendaraan yang berarak pun telah padam. Namun, pesan yang ditinggalkannya tetap menyala.
Bahwa Indonesia sesungguhnya hidup di desa-desa kecil seperti Ile Boleng. Di tempat-tempat sederhana, masyarakat membuktikan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. Di bawah gema takbir yang mengalun pada malam kemenangan itu, warga Ile Boleng menunjukkan kepada siapa saja bahwa persaudaraan dapat berjalan beriringan dengan keyakinan yang berbeda. Dan mungkin, itulah kemenangan yang sesungguhnya: ketika manusia mampu menjaga cinta kasih di atas segala perbedaan.
